Senin, 12 September 2011

MASJID AGUNG KOTA SUKABUMI DAN SYAFI'I ANTONIO


Oleh: Irman Musafir Sufi
Beberapa hari sesudah lebaran usai saya sempat memotret masjid Agung sukabumi yang letaknya di jantung kota sebelah alun-alun sukabumi, kata cerita masyarakat masjid ini sangat bersejarah namun sayangnya sampai sekarang saya belum mendapatkan cerita detail mengenai sejarah masjid ini. Yang saya dengar adalah pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 di lokasi inilah dikibarkan sang saka merah putih. Masjid ini awalnya didirikian diatas tanah waqaf milik Ahmad Juwaeni, menurut serita sejak tahun 1905 masjid ini jadi sentra perjuangan, namun tidak jelas cerita detailnya.


Dalam suatu obrolan kecil dengan guru saya, KH. Fathulloh, pemimpin pesantren Al Masyhad Cijurey Sukabumi (Kebetulan beliau sahabat ayah saya dalam thalabul ilmi dan berdakwah, ayahnya adalah kiai seperguruan kakek saya juga), beliau menceritakan tentang seorang temannya sepesantren dulu di An Nizhom Sukabumi yaitu Muhammad Syafii Antonio, beliau adalah keturunan Tionghoa yang masuk islam dan belajar sangat tekun, bahkan hafalannya mengalahkan teman-teman seperguruannya, pada saat kecil dia sering tidur di Masjid Agung Sukabumi, ikut sholat, puasa, sampai ketahuan orang tuanya seorang pendeta Budha dan dipukuli. Namun dia terus saja tinggal di masjid sehingga akhirnya dilindungi oleh imam masjid tersebut (supaya tidak dipukuli oleh orang tuanya).

Setahu saya Muhammad Syafii Antonio adalah orang terkenal, beliau lulus dari Fakultas Syariah University of Jordan (S1) Program Islamic Studies Al Azhar Cairo, Master of Economics International Islamic University Malaysia (S2), University of Melbourne (S3) dan melakukan visiting research di Oxford University. Saat ini menjadi komisaris dan dewan pengawas di Bank Syaria Mega Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Takaful, Bank Export Indonesia, dan PNM. Antonio juga memimpin Batasa Tazkia Consulting, STEI Tazkia dan diamanati sebagai komite Ahli Bank Indonesia. Tahun 2006 Antonio diangkat PM Malaysia sebagai Shariah Advisory Council Bank Central Malaysia.

Dari biografinya yang saya baca beliau memang lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 12 mei 1965. Nama aslinya Nio Cwan Chung. Sejak kecil ia mengenal dan menganut ajaran Konghucu, karena ayahnya seorang pendeta Konghucu. Selain mengenal ajaran Konghucu, ia juga mengenal ajaran Islam melalui pergaulan di lingkungan rumah dan sekolah. ia sering memperhatikan cara-cara ibadah orang-orang muslim dan suka melakukan shalat. Ayahnya sangat tidak menyukai agama islam, Sikap ini berangkat dari image gambaran buruk terhadap pemeluk Islam. Ayahnya sebenarnya melihat ajaran Islam itu bagus. Apalagi dilihat dari sisi Al Qur’an dan hadits. Tapi, ayahnya sangat heran pada pemeluknya yang tidak mencerminkan kesempurnaan ajaran agamanya. Gambaran buruk tentang kaum muslimin itu menurut ayah saya terlihat dari banyaknya umat Islam yang berada dalam kemiskinan,keterbelakangan,dan kebodohan. Bahkan, sampai mencuri sandal di mushola pun dilakukan oleh umat Islam sendiri. Jadi keindahan dan kebagusan ajaran Islam dinodai oleh prilaku umatnya yang kurang baik.

Namun Antonio terus mempelajari islam, ia mencoba mengkaji Islam secara komparatif (perbandingan) dengan agama-agama lain. Dalam melakukan studi perbandingan ini ia menggunakan tiga pendekatan, yakni pendekatan sejarah, pendekatan alamiah, dan pendekatan nalar rasio biasa. Sengaja ia tidak menggunakan pendekatan kitab-kitab suci agar dapat secara obyektif mengetahui hasilnya. Setelah melakukan perenungan untuk memantapkan hati, maka di saat ia berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA, ia putuskan untuk memeluk agama Islam. Oleh K.H.Abdullah bin Nuh al-Ghazali ia dibimbing untuk mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat pada tahun 1984. Namanya kemudian diganti menjadi Syafii Antonio.

Ia akhirnya dikucilkan dan diusir dari rumah. Jika ia pulang, pintu selalu tertutup dan terkunci. Bahkan pada waktu shalat, kain sarungnya sering diludahi. Antonio menghadapinya dengan sabar dan santun sehingga membuahkan hasil, Tak lama kemudian mamanya masuk islam. Setelah mengikrarkan diri, ia terus mempelajari Islam, mulai dari membaca buku, diskusi, dan sebagainya. Kemudian ia mempelajari bahasa Arab di Pesantren an-Nidzom, Sukabumi, dibawah pimpinan K.H.Abdullah Muchtar.

Lulus SMA ia melanjutkan ke ITB dan IKIP, tapi kemudian pindah ke IAIN Syarif Hidayatullah. Itupun tidak lama, kemudian ia melanjutkan sekolah ke University of yourdan (Yordania). Selesai studi S1 ia melanjutkan program S2 di international Islamic University (IIU) di Malaysia, khusus mempelajari ekonomi Islam.

Selesai studi, ia bekerja dan mengajar pada beberapa universitas. Segala aktivitasnya sengaja ia arahkan pada bidang agama. Untuk membantu saudara-saudara muslim Tionghoa, Ia aktif pada Yayasan Haji Karim Oei. Di yayasan inilah para mualaf mendapat informasi dan pembinaan. Mulai dari bimbingan shalat, membaca Al-Qur’an, diskusi, ceramah, dan kajian Islam, hingga informasi mengenai agama Islam. (Hamzah, mualaf.com)

Subhanalloh, ternyata dari keistiqomahannya dalam mencari tahu akhirnya dia diberikan hidayah oleh Allah SWT dan menjadi orang sangat berguna bagi agama, dan jalan hidupnya bermula dari Masjid Agung Kota Sukabumi. Setidaknya ini juga sejarah yang saya dapatkan dari hasil ngobrol. Namun yang perlu kita cermati adalah mengenai perilaku umat islam yang tidak mencerminkan kesempurnaan ajaran islam itu sendiri, mungkin itu bisa kita jadikan bahan introspeksi.
Wallahu a’lam

1 komentar: