Minggu, 09 Oktober 2011

Bagaimana Pakaian muslim dijaman dulu?



Oleh: Irman Musafir Sufi

Kesenangan saya dalam menggunakan pakaian islami selama berada di rumah mendorong saya untuk mengetahui jenis-jenis pakaian muslim diseluruh dunia, untuk pakaian masa rasulullah kita bisa lihat kain dan sorban yang digunakan rasulullah yang sekarang disimpan dimuseum Topkapi, sangat sederhana, jika ingin lihat secara beragam maka bisa lihat film the message dengan bintangnya Anthony Quinn, Sutradara Moustapha akkad, disitu tercermin pakaian yang dipergunakan suku-suku disekitar arab. Sebenarnya banyak beredar pakaian muslim saat ini mulai baju koko, gamis arab, gamis Pakistan (setengah lutut) dsb bisa kita lihat jamaah tabligh atau para salaf yang menggunakan pakaian tersebut, begitu pula peci, saya memiliki beragam peci mulai dari kopiah haji beragam jenis, tarbusy turki, topi afghanistan, kopiah Uzbekistan, sampai dengan topi sufi yang kuncup/nyungcung (dicirebon disebut peci orang suci), kebetulan disukabumi ada yang jual bedanya dengan Cirebon, yang sukabumi lebih pendek, peci ini bagusnya dililit sorban seperti para sufi maulawi. Yang belum saya punya saat ini adalah topi para darwis yang panjang (disebut sikke), akhirnya saya buat sendiri dari topi supporter timnas yang panjang dan sedikit dimodifikasi, jadilah topi darwis.

Ternyata sangat jarang literature yang membahas fashion muslim kecuali beberapa artikel berbahasa inggris, saya sendiri menganalisa beberapa jenis peci dan perkembangannya seperti peci haji yang semarak didaerah timur tengah, asia tengah sampai Indonesia dengan beragam jenis dan warna, kemudian peci biasa seperti peci Indonesia sebenarnya mirip dengan tarbus mesir dan turki cuma ukuran yang berbeda, di turki dan mesir menggunakan tali rambut diatasnya (kayak wan arab), sedangkan topi runcing yang digunakan sufi sebenarnya banyak digunakan oleh orang-orang mongol (lihat pasukan muslim topi bajanya runcing), yang agak beda adalah topi Afghanistan yang banyak berkembang diwilayah Afghanistan, Pakistan dan iran. Pada intinya semuanya adalah penutup kepala untuk shalat atau untuk pelindung diluar, seperti juga sorban yang sangat umum disemua wilayah muslim, jenis sorban beragam ada yang 3 hasta, 7 hasta, 12 hasta (saya baru bisa buat yang 3 hasta), menurut para habib besaran sorban menunjukkan tingkat keilmuannya (padahal saya asal pake aja hi hi).
Pada masa awal islam pakaian sederhana saja, asal menutup aurat, dan dikerjakan sendiri di rumah-rumah, tidak diproduksi besar-besaran, sebagian ada yang diimport dari Romawi dan Byzantin (oleh pedagang rum), namun pada masa umayyah dan abasiyah pakaian mulai bercorak, ada yang bergambar kapak, burung, sayap burung yang dilukis diatas kain sutera, namun tidak diwajibkan warna tertentu, kecuali pada hari jumat, semua rakyat umayyah harus menggunakan pakaian putih baik untuk sholat jumat maupun untuk keluar rumah, tetapi jika arak-arakan maka pakaiannya berwarna-warni (patricia L. Baker). Ketika wilayah islam meluas, pakaian tradisional wilayah taklukkan setempat masih dipertahankan dan menyesuaikan dengan syariat islam.

Pada masa abbasiyah, pakaian gaya Persia mulai banyak disukai ole golongan bangsawan, dan menjadi pakaian resmi pejabat Negara di istana khalifah. Abu Bakar Al Mansur pernah memerintahkan pegawai istana untuk memakai sejenis songkok panjang yang kuncup. Pakaian golongan bangsawan dan golongan biasa juga berbeda, golongan bangsawan pakaiannya terdiri dari seluar besar, baju dalam, baju luar yang belah tengah didada, kain penutup badan, jubbah dalam, pakaian sebelah luar dan songkok (ribet ya), sementara golongan biasa mengenakan sarung, baju dalam, baju luar yang berbelah dada ditengah, sejenis kain panjang penutup badan dan tali pinggang, keduanya juga memakai sandal atau sepatu. Orang-orang kaya biasanya menggunakan stoking, para khilafah dan kadi (hakim) mengenakan sorban hitam yang dililitkan ke sekitar songkok. Al Mansur juga menetapkan warna hitam sebagai pakaian untuk majelis umum untuk pegawai dan pejabat tinggi di pemerintahan. Warna pakaian untuk ulama juga telah dikhususkan warna hitam, dipakai sekurang-kurangnya 2x seminggu, jika ga dipake maka ada hukuman.
Wanita kelas atas abbasiyah mulai menghiasi kerudungnya dengan emas dan permata, tercatat wanita yang menggunakannya ialah Sitti Aliyyah binti Almahdi dan Saudari perempuan Harun Al Rashid. Para wanita juga menggunakan gelang emas dan gelang kaki serta berdandan ala wanita persia. Di Jaman Abasiyah teknik mewarnai pakaian berkembang pesat, dan warna pakaian dipergunakan untuk membedakan individu berdasarkan agamanya, Di Masa Mutawwakil (847-861) beliau memerintahkan agar non muslim menggunakan pakaian berwarna kuning madu ketika keluar rumah, Di Masa Mamluk mewajibkan warna kuning sebagai warna resmi kerajaan, kecuali pada bulan mei diperbolehkan warna putih selama dua minggu sebagai permulaan musim panas. Di Mesir, lelaki yahudi dan Kristen diharuskan menggunakan sorban warna biru dan kuning secara bergiliran, pada masa mamluk ini pola kain sudah ada pengaruh dari eroa, cina dan local, teks geometri mulai muncul pula pada kain. Sementara itu tentara menggunakan baju besi untuk keselamatan, namun hanya tentara elit dan bangsawan saja, sementara tentara biasanya pakaian biasa saja.
Yang paling menarik untuk saya pelajari adalah pakaian di era Turki Utsmani (Orang barat menyebutnya Ottoman karena Utsmani dalam bahasa turki disebut Othman atau usman dalam bahasa Indonesia, karena orang barat cadel maka jadinya ottoman), seperti diketahui pada masa jayanya, kekuasaan turki utsmani membentang mulai dari India sampai Balkan, dari kaukasus sampai afrika utara, suatu wilayah yang sangat luas, bahkan pengaruhnya sendiri sampai ke Indonesia dan jepang, dari literature yang saya baca bahkan Aceh sendiri termasuk wilayah pengaruh Turki baik dengan dukungan militer maupun kenegaraan. Anda bisa bayangkan betapa kompleksnya Negara Turrki Utsmani, dengan wilayah yang luas, manusia yang amat banyak dari segala lapisan, dan yang paling menarik otomatis jenis pakaiannyapun sangat beragam.
Pada awalnya pakaian bangsa Turki adalah berasal dari stepa Asia Tengah, namun seiring masuknya Islam maka turki mengikuti ajaran rasulullah yang membedakan pakaian muslim dengan non muslim, laki2 menggunakan surban atau sejenisnya, wanita menggunakan pakaian menutup aurat dan undnag-undang dibuat sesuai afiliasi agamanya. Pada masa itu Basrah menjadi tempat export import tekstil dari Iran, Mesir Syiria masuk ke Turki, menjelang 1504 telah ada lebih dari 1000 mesin tenun yang menghasilkan jutaan helai kain dengan motif beragam mulai dari tumbuhan, binatang, geometri, kulit harimau dan sebagainya, industry sangat maju dan muncul pengaruh juga dari itali untuk kain. Secara umum pembuatan pakaian sangat akurat dan bagus. Sorban pada masa turki Utsmani sedikit berubah, muncul sorban yang dihiasi permata dan agak menonjol, cita rasa orang Turki Utsmani sangat tinggi terhadap pakaian dan perhiasan, permata sudah menghias aksesoris seperti tali pingang. Pada akhir abad ke 15 topi baja berbentuk surban telah dibuat untuk peperangan maupun untuk pasaran ke Persia, kemudian dibuatkan engsel untuk memprmudah mencopotnya.
Di era Turki utsmani pakaian untuk pegawai pemerintah diatur dengan undang-undang, namun untuk masyarakat dipersilahkan sesuai budayanya dengan syarat menutupi aurat. Pada masa suleyman the magnificent barulah ada aturan tertentu untuk pakaian muslim, Kristen, yahudi, hal ini berlangsung sampai muncul masa westernisasi (tanzimat) dimana para pejabat pemerintah banyak yang menggunakan pakaian barat (jas, topi) namun sebagian masyarakat masih menggunakan pakaian muslim tradisionalnya. Pakaian ala Era Turki Utsmani juga ternyata berpengaruh ke fashion barat, hal ini disebutkan dalam penelitian Charlotte Jirousek, seperti jubbah, gamis, jaket yang ditiru dari fashion Turki Utsmani.
Selain itu di Negara lainnya seperti di Safawi juga fashion berkembang, hampir mirip dengan turki namun mereka menggandrungi pakaian berwarna merah jambu, orange, peach, lavender dan kelabu, di wilayah fatimiyah, lelaki dan permpuan gemar memakai jubbah, lelaki memakai sorban dikepala dan wanita memakai jilbab, kadang ada juga yang memakai burqa (tertutup semua kecuali mata), ada juga yang memakai cucuk sanggul. Di wilayah Mughal India, pakaian saree adalah yang paling terkenal, pada masa Maharaja Akbar seni berkembang dan beliau menyukai perpadua pakaian iran dan india, terutama perhiasannya, namun dimasa Aurangzeb perhiasan dilarang untuk laki-laki karena tidak sesuai denngan syariat islam. Pada Masa Mughal ini rompi baja sudah dibuat untuk melindungi tentara, selai n itu pelindung tangan dan kaki dari besi juga dibuatkan.
Kalo pakaian muslim dinusantara tidak perlu saya jelaskan, semua saya rasa sudah faham, yang jelas seni terus berkembang seiring zaman, yang tidak boleh dilupakan adalah seni islami tetap harus merujuk ke syariat islam, menutup aurat,bukan malah mengumbar aurat, saya sedih melihat para abg yang berjilbab namun sangat ketat, bahkan ada yg menggunakan celana melorot sehingga celengannya kelihatan, Astaghfirullah. Semoga semua pembaca diberikan hidayahnya untuk tetap ingat bahwa tujuan berpakaian adalah pelindung diri baik dari alam sekitar maupun dari dosa yaitu dengan menutup Aurat. Bagi penyuka pakaian muslim masa lalu silahkan lihat gambar-gambar yang saya sajikan, jika toko tidak menyediakan silahkan buat sendiri di tukang jahit. Wallahu a’lam.

1 komentar:

  1. misi gan numpang nanya....

    tau peci yang d pake ahmad dhani gk??? yg ni nih.... http://id.omg.yahoo.com/foto/kepergian-ayah-ahmad-dhani-1328157742-slideshow/ahmad-dhani-photo-1328157474.html

    mupeng berat nih gan, googling dah 3 hari gk ktemu2??
    bles dsini gan malik061186@yahoo.co.id. thanks b4

    BalasHapus